AGAMA DAN MASYARAKAT

 

A.  FUNGSI AGAMA

 

Agama adalah sistem yang mengatur kepercayaan dan peribadatan Kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatana kehidupan. Banyak agama memiliki mitologi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup yang menjelaskan asal-usul kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut beberapa perkiraan, ada sekitar 4.200 agama di dunia.

Ada beberapa fungsi agama dalam masyarakat yaitu, Fungsi Edukatif. Agama memiliki fungsi untuk membimbing dan mengajar masyarakat sehingga tingkah laku mereka dapat menjadi baik dan benar. Dalam konteks ini, masyarakat memiliki keterbukaan hati untuk dibina dan digembleng sesuai dengan nilai-nilai agama yang diberikan. Agama menyampaikan pengajarannya melalui petugas-petugas agama, baik di dalam upacara (perayaan) keagamaan, renungan, khotbah, pendalaman iman maupun di luar perayaan liturgis.

Fungsi Penyelamatan. Semua anggota masyarakat memiliki kerinduan yang besar untuk mencapai keselamatan, baik untuk kehidupan sekarang maupun untuk kehidupan setelah kematian. Untuk itu, keselamatan tidak boleh dipandang sebagai hal yang biasa-biasa saja tetapi merupakan sesuatu yang cukup sulit tergantung bagaimana manusia menghayati kehidupan beragamanya. Jaminan untuk keselamatan hanya ditemukan dalam agama. Dalam agama diberikan pengajaran bagaimana cara untuk mencapai keselamatan itu. Relasi yang harmonis dengan Tuhan memungkinkan manusia untuk selamat dari segala bentuk kejahatan yang selalu datang silih berganti tanpa kita ketahui kapan kejahatan itu datang dan mengancam keberadaan kita.

Fungsi Perdamaian. Melalui tuntunan agama seorang/sekelompok orang yang bersalah atau berdosa mencapai kedamaian batin dan perdamaian dengan diri sendiri, sesama, semesta dan Alloh. Tentu dia/mereka harus bertaubat dan mengubah cara hidup.

Fungsi Kontrol Sosial. Ajaran agama membentuk penganutnya makin peka terhadap masalah-masalah sosial seperti, kemaksiatan, kemiskinan, keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Kepekaan ini juga mendorong untuk tidak bisa berdiam diri menyaksikan kebatilan yang merasuki sistem kehidupan yang ada.

Fungsi Pemupuk Rasa Solidaritas. Bila fungsi ini dibangun secara serius dan tulus, maka persaudaraan yang kokoh akan berdiri tegak menjadi pilar “Civil Society” (kehidupan masyarakat) yang memukau.

Fungsi Pembaharuan. Ajaran agama dapat mengubah kehidupan pribadi seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru. Dengan fungsi ini seharusnya agama terus-menerus menjadi agen perubahan basis-basis nilai dan moral bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Fungsi Kreatif. Fungsi ini menopang dan mendorong fungsi pembaharuan untuk mengajak umat beragama bekerja produktif dan inovatif bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Fungsi Sublimatif (bersifat perubahan emosi). Ajaran agama mensucikan segala usaha manusia, bukan saja yang bersifat agamawi, melainkan juga bersifat duniawi. Usaha manusia selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama, bila dilakukan atas niat yang tulus, karena untuk Alloh, itu adalah ibadah.

Perkembangan iptek mempunyai konsekuensi penting bagi agama.Sekulerisai cenderung mempersempit ruang gerak kepercayaan dan pengalaman keagamaan. Kebanyakan agama yang menerima nilai- nilai institusional baru adalah agama – agama aliran semua aspek kehidupan.
Dimensi komitmen agama menurut Roland Robertson:

1. Dimensi keyakinan mengandung perkiraan/harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu.
2. Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secara nyata.
3.Dimensi pengerahuan, dikaitkan dengan perkiraan.
4.Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, semua agama mempunyai perkiraan tertentu.
5.Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan.

 

B.  PELEMBAGAAN AGAMA

 

Agama sangat universal, permanen, dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila tidak memahami agama, maka akan sulit memahami masyarakat. Hal yang harus diketahui dalam memahami lembaga agama adalah apa dan mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya serta fungsi dan struktur dari agama.
Dimensi ini mengidentifikasikan pengaruh-pengaruh kepercayaan, praktek, pengalaman, dan pengetahuan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dimensi-dimensi ini dapat diterima sebagai dalil atau dasar analitis, tapi hubungan antara empat dimensi itu tidak dapat diungkapkan tanpa data empiris.
Menurut Elizabeth K. Nottingham (1954), kaitan agama dalam masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan keseluruhannya secara utuh.

Tiga tipe kaitan agama dengan masyarakat Agama memiliki tiga (3) tipe hubungan dengan masyarakat diantaranya (menurut Elizabeth K. Nottingham). Masyarakat Pedalaman Di dalam kehidupan masyarakat pedalaman agama masih berdasarkan kepercayaan sehingga mereka mengadakan berbagai upacara ritual karena mereka percaya dengan begitu mereka sudah memiliki agama. Masyarakat Semi Industri Di dalam masyarakat semi industri sudah lebih maju dari masyarakat pedalaman sehingga di masyarakat semi indutri sudah memegang agama sebagai kepecayaan dan sebagai pedoman dalam melakukan segala hal seperti berdagang Masyarakat Industri Sekunder (Modern) Di dalam masyarakat industri sekunder sudah banyak muncul teknologi canggih sehingga lebih mudah menolong kegiatan manusia, namun karena sudah banyak teknologi maka agama menjadi di “no duakan” sehingga kurangnya kepercayaan terhadap agama.

Ada 3 tipe kaitan agama dengan masyarakat, diantaranya :

1. Masyarakat dan nilai-nilai sakral.

2. Masyarakat-masyarakat pra industri yang sedang berkembang.

3. Masyarakat-masyarakat industri sekuler.

Pengertian pelembagaan agama itu sendiri ialah apa dan mengapa agama ada, unsur- unsur dan bentuknya serta fungsi struktur agama. Dimensi ini mengidentifikasikan pengaruh-pengaruh kepercayaan di dalam kehidupan sehari-hari.Macam-macam Lembaga Agama di Indonesia, yaitu:

1.     Islam = Majelis Ulama Indonesia (MUI)

2.     Kristen = Persekutuan Gereja-Gereje Indonesia (PGI)

3.     Katolik = Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)

4.     Hindu = Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)

5.     Buddha = Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI)

6.     Khonghucu = Majelis Tinggi Khonghucu Indonesia (MATAKIN)

 

C.  AGAMA, KONFLIK DAN MASYARAKAT

 

Agama ,konflik dan masyarakat Contoh-contoh dan kaitannya tentang konflik yang ada dalam agama dan masyarakat. Di Indonesia sendiri konflik agama baik yang bersifat murni maupun yang ditumpangi oleh aspek budaya, politik, ideologi dan kepentingan golongan banyak mewarnai perjalanan sejarah Indonesia. Bahkan diera reformasi dan paska reformasi, agama telah menunjukkan peran dan fungsinya yang nyata. Baik kekuatan yang konstuktif maupun kekuatan yang destruktif. Sesudah gerakan reformasi, suatu keyakinan ketuhanan atau keagamaan banyak dituduh telah menyebabkan konflik kekerasan dinegeri ini. Selama 4 tahun belakangan, ribuan anak bangsa mati tanpa tahu untuk apa. Ribuan manusia terusir dari kampung halamannya, tempat mereka dilahirkan. Ribuan anak-anak lainnya pun menjadi piatu, kehilangan sanak keluarganya dan orang-orang yang dikasih.

Ada beberapa contoh konflik agama di masyarakat Indonesia, yaitu:

1.     Kerusuhan Poso Islam dan Nasrani

Kerusuhan Poso pada kota Poso, Sulawesi Tengah ini juga sebuah contoh konflik antar agama yang dimana dampak muncul cukup serius. Konflik sosial di antara umat Islam dan Nasrani ini sampai berlarut panjang dan terbagi oleh tiga bagian sebab kurang penanganan konflik tersebut. Ketiga waktu kerusuhan poso tersebut Poso I terjadi antar tanggal 25 sampai 29 Desember 1998, Poso II terjadi antar tanggal 17 samapai 21 April 2000, sementara pada Poso III terjadi antar tanggal 16 Mei sampai 15 Juni 2000. Tidak diketahui berapa jumlah korban juga kerugian yang alami oleh konflik ini. Yang pasti setelah penandatanganan Deklarasi Malino tanggal 20 Desember 2001, antara kedua pihak bertikai, sudah berangsur -angsur membaik setelah Deklarasi Malino sendiri di inisiasi Bpk. Jusuf Kalla.

 

 

2.     Konflik antar agama di Aceh

Konflik antar agama terjadi di Aceh kota Singkil pada tahun 2015 yang di awali dengan serangkaian demonstrasi dilakukan oleh sebagaian umat Islam yang denuntut pemerintah daerah dalam membongkar sejumlah geraja Kristen.

3.     Konflik Ambon Islam dan Nasrani

Contoh konflik antar agama, pertama kali adalah konflik kerusuhan yang terjadi di Ambon, Maluku tanggal 19 Januari 1999. Konflik sosial ini dipicu permasalahan sederhana. Lalu pada akhirnya konflik menjadi semakin besar setelah ada berbagai isu yang menerpa yang pada akhirnya membakar amarah kedua belah pihak masing-masing orang Muslim dan Nasrani. Lalu  di laporkan konflik di Ambon itu telah menyebabkan warga tewas 12 orang di tamah ratusan orang luka-luka. Sampai akhirnya konflik sosial ini mereda setelah upaya rekonsiliasi yang dilakukan para pemerintah daerah tersebut.

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Penerapan Framework ITIL pada MTIX

Penerapan ITSM dan ITIL pada Perusahaan Jalur Nugraha Ekakurir (JNE)

Beropini pada Kasus Pemuda